Impian Kura-Kura
Langkah Pelan di Tepi Danau
Di tepi danau yang jernih, hiduplah seekor kura-kura muda bernama Timo. Ia berjalan pelan, namun matanya selalu menatap jauh ke seberang air. Setiap sore, Timo naik ke batu hangat dan memandangi burung yang melintas.
“Aku ingin melihat dunia dari ketinggian,” gumamnya.
Ikan-ikan kecil sering tertawa. “Kakimu pendek,” kata mereka. “Bagaimana mungkin terbang?”
Timo tersenyum. “Aku tidak ingin terbang. Aku ingin mencapai bukit di balik danau.”
Peta dari Ranting
Suatu hari, Timo bertemu landak tua bernama Garda. Garda menggambar jalur dengan ranting di pasir.
“Jalan memutar lebih panjang,” kata Garda, “tetapi aman. Jalan lurus cepat, namun berbatu.”
Timo memilih jalan memutar. Ia menyimpan peta kecil di kepalanya dan memulai perjalanan saat matahari masih rendah.
Rintangan di Padang Ilalang
Padang ilalang berdesir saat angin lewat. Timo menahan langkah ketika semut berbaris. Ia memberi jalan, lalu melanjutkan. Di tanjakan, cangkangnya terasa berat. Keringat membasahi lehernya, namun ia tidak berhenti.
Seekor bangau mengawasi dari jauh. “Mengapa kau repot-repot?” tanya bangau.
“Aku mengejar pemandangan,” jawab Timo.
Bangau mengangguk dan menunjuk arah sungai kecil. “Ikuti alirannya. Tanahnya lebih padat.”
Jembatan Akar
Di sungai, arus mengalir tenang. Timo menemukan jembatan dari akar pohon. Ia menguji pijakan satu per satu. Air memantulkan cahaya, dan capung berputar.
Setelah menyeberang, ia beristirahat di bawah pakis. Napasnya teratur. Ia membuka peta di benaknya dan tersenyum.
Puncak yang Menyambut
Sore merambat ketika Timo tiba di kaki bukit. Jalur berkerikil menantang, tetapi langkahnya mantap. Saat matahari menyentuh tepi awan, Timo mencapai puncak kecil.
Dari sana, danau berkilau seperti kaca. Burung melintas rendah. Angin membawa aroma pinus. Timo menutup mata, menyimpan pemandangan di hati.
Pulang dengan Cerita
Malam turun. Timo memutar kembali, mengikuti jalur yang sama. Ia tiba di tepi danau saat bintang muncul. Ikan-ikan mendekat.
“Bagaimana dunia di atas?” tanya mereka.
“Luas,” jawab Timo. “Dan indah.”
Ia menyadari satu hal: impian tidak meminta sayap. Impian meminta langkah yang setia. Dan Timo akan melangkah lagi esok hari. Baca cerita lain disini.



