Monyet dan Unta Peniru
Di sebuah oasis yang subur di tepi gurun, hiduplah seekor monyet cerdik bernama Kiko. Ia lincah, cepat berpikir, dan suka mencoba hal baru. Kiko memanjat pohon kurma, mengumpulkan buah, lalu membaginya dengan hewan lain. Oasis itu ramai karena Kiko sering membuat permainan kecil yang menyenangkan.
Suatu pagi, Kiko melihat bayangan tinggi mendekat dari arah pasir. Bayangan itu milik seekor unta muda bernama Rami. Rami berhenti di tepi oasis dan memandangi Kiko dengan mata berbinar.
Rami terkenal suka meniru. Jika melihat burung mengepak, ia mencoba mengibaskan telinga. Jika melihat kijang berlari zigzag, ia ikut berbelok meski kakinya panjang. Ketika melihat Kiko memanjat pohon, Rami pun mencoba.
“Awas, Rami!” teriak Kiko. “Pohon itu rapuh.”
Rami tidak mendengar. Ia mendorong batang dengan bahunya dan mencoba meraih dahan. Pohon bergoyang keras, kurma berjatuhan, dan Rami terpeleset. Ia mendarat dengan debu beterbangan. Untungnya, ia tidak terluka.
Rami tertawa canggung. “Aku ingin bisa seperti kamu.”
Kiko tersenyum. “Kita tidak perlu sama untuk jadi hebat.”
Hari-hari berikutnya, Rami terus meniru Kiko. Ia melompat kecil, berlari cepat, bahkan mencoba memetik buah dengan bibirnya. Banyak yang gagal, dan beberapa hewan menertawakan. Kiko merasa kasihan.
“Kamu punya kekuatan sendiri,” kata Kiko sambil duduk di batu. “Lehermu panjang, kakimu kuat. Cobalah jadi dirimu.”
Rami mengangguk, tetapi kebiasaan meniru sulit hilang. Hingga suatu siang, badai pasir muncul tiba-tiba. Angin menderu, pandangan mengabur. Hewan-hewan panik dan berlarian.
Kiko segera memanjat pohon rendah dan berteriak memberi arah. Namun pasir makin tebal, dan suara Kiko tertelan angin. Rami melihat celah di balik bukit pasir yang bisa melindungi banyak hewan. Ia berdiri tegap, menghadang angin dengan tubuh besarnya.
“Ke sini! Ikuti aku!” seru Rami lantang.
Kiko turun dan mengarahkan hewan-hewan kecil mengikuti Rami. Dengan langkah mantap, Rami memimpin rombongan menuju perlindungan. Angin menghantam, tetapi Rami bertahan. Mereka tiba dengan selamat; badai pun berlalu.
Setelah badai, oasis kembali tenang. Hewan-hewan berterima kasih pada Rami. Kiko menghampiri sahabat barunya. “Lihat? Kamu tidak meniru siapa pun, dan semua tertolong.”
Rami tersenyum lebar. “Aku baru paham. Meniru membantuku belajar, tapi menjadi diriku membuatku berguna.”
Sejak hari itu, Rami tetap belajar dari Kiko, namun ia memilih cara sendiri. Ia menggunakan kekuatan untuk membawa air, leher panjang untuk mengintai, dan suara lantang untuk memberi peringatan. Kiko pun senang punya sahabat yang melengkapi.
Di oasis hijau itu, monyet cerdik dan unta peniru membuktikan satu hal: belajar dari orang lain itu baik, tetapi menjadi diri sendiri membuat persahabatan semakin kuat. Baca cerita lain disini.
Awal Kehidupan yang Sederhana Di sebuah kampung di wilayah Aceh, hiduplah sepasang suami istri bersama…
Di sebuah wilayah yang penuh dengan tradisi dan kehormatan, hiduplah seorang pemuda bernama Limonu. Sejak…
Burung Cendrawasih dikenal luas sebagai simbol keindahan dari tanah Papua. Dengan bulu berwarna cerah dan…
Di wilayah Mimika, hiduplah sekelompok masyarakat yang menggantungkan hidup dari sagu. Aktivitas memangkur sagu dilakukan…
Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak…
Di sebuah kampung tua di hulu Sungai Silau, hidup sebuah keluarga terpandang yang memiliki dua…