Kegigihan Sang Pangeran

Putra Mahkota yang Tak Mudah Menyerah

Di sebuah kerajaan lembah yang subur, hiduplah Pangeran Arkana. Ia dikenal ramah dan tekun. Meski tumbuh di istana, Arkana memilih belajar dari ladang dan bengkel. Ia menyapa petani, mengangkat karung gandum, dan memperbaiki jembatan kayu bersama tukang.

Suatu musim, hujan tak turun. Sungai menyusut, dan sawah retak. Arkana melihat kecemasan di mata rakyatnya. Ia berjanji mencari jalan agar air kembali mengalir.

Peta Lama di Perpustakaan Batu

Arkana menyusuri perpustakaan batu yang sunyi. Di sana, ia menemukan peta tua yang menggambar saluran air kuno dari pegunungan. Tinta pudar, namun garis jalur masih jelas.

“Jalur ini panjang dan terjal,” kata penjaga perpustakaan.

“Aku akan mencobanya,” jawab Arkana.

Ia mengumpulkan tim kecil: seorang pemahat batu, seorang penunjuk jalan, dan dua pemuda desa yang kuat. Mereka berangkat saat fajar.

Pendakian yang Menguras Tenaga

Jalur menanjak memeluk tebing. Angin dingin menyusup, dan kabut menutup pandangan. Arkana memimpin langkah, menancapkan tongkat, lalu menarik tali bagi yang tertinggal. Beberapa kali mereka berhenti untuk mengatur napas.

Di punggung gunung, hujan es menyapa. Jari kaku, bahu pegal. Namun Arkana tetap maju. Ia mengingat wajah petani yang menunggu.

Terowongan Air yang Terlupakan

Di balik batu raksasa, mereka menemukan mulut terowongan tua. Lumut menutup dinding, dan tanah runtuh menghalangi sebagian jalur. Pemahat mulai memecah bongkah. Penunjuk jalan menandai retakan aman. Arkana mengangkat puing dan mengatur giliran.

Air menetes dari celah. Suara gemericik menguat. Setelah lorong terbuka, arus dingin mengalir masuk.

Aliran yang Menghidupkan

Mereka menuntun air menyusuri parit baru menuju lembah. Di bawah, warga menunggu. Saat aliran pertama menyentuh tanah, sorak bergema. Anak-anak berlari, dan petani menunduk syukur.

Arkana tersenyum lelah. Bajunya basah, tangannya berdebu, tetapi matanya bersinar.

Janji yang Terpenuhi

Malam itu, istana menyala oleh obor. Raja memeluk putranya. “Kau membuktikan arti kepemimpinan,” katanya.

Arkana menatap sungai yang kembali bernyanyi. Ia tahu, jalan selalu terbuka bagi mereka yang tidak berhenti melangkah. Kegigihan bukan sekadar kekuatan, melainkan kesetiaan pada janji. Baca cerita lengkap disini.

Sharon K Connell

Recent Posts

Tujuh Anak Lelaki

Awal Kehidupan yang Sederhana Di sebuah kampung di wilayah Aceh, hiduplah sepasang suami istri bersama…

2 hari ago

Limonu Sang Perkasa

Di sebuah wilayah yang penuh dengan tradisi dan kehormatan, hiduplah seorang pemuda bernama Limonu. Sejak…

5 hari ago

Legenda Cendrawasih

Burung Cendrawasih dikenal luas sebagai simbol keindahan dari tanah Papua. Dengan bulu berwarna cerah dan…

1 minggu ago

Biwar Sang Penakluk Naga

Di wilayah Mimika, hiduplah sekelompok masyarakat yang menggantungkan hidup dari sagu. Aktivitas memangkur sagu dilakukan…

2 minggu ago

Asal Mula Ikan Duyung

Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak…

2 minggu ago

Legenda Asal Usul Pohon Sagu

Di sebuah kampung tua di hulu Sungai Silau, hidup sebuah keluarga terpandang yang memiliki dua…

3 minggu ago