Kancil dan Buaya Menyeberang dengan Akal Sehat dan Pikiran Tenang
Di tepi sungai yang lebar dan berarus tenang, Kancil berdiri sambil menatap permukaan air. Ia mencium aroma buah matang dari seberang hutan. Pohon-pohon di sana sedang berbuah lebat, dan perutnya mulai keroncongan. Kancil tahu sungai itu menyimpan sesuatu yang istimewa, bukan hanya air yang mengalir. Di balik permukaan yang tampak damai, buaya-buaya besar sering bersembunyi dan menunggu mangsa yang lengah. Kancil tidak ingin ceroboh. Ia sadar satu langkah salah bisa membuatnya menjadi santapan.
Ia mundur beberapa langkah dan duduk di bawah semak. Kancil mengatur napas dan menenangkan pikirannya. Ia teringat pesan ibunya: jangan biarkan rasa takut atau lapar menguasai akal sehat. Jika menghadapi masalah besar, berhentilah sejenak dan pikirkan cara yang aman. Setelah beberapa saat merenung, matanya berbinar. Sebuah ide muncul di kepalanya.
“Wahai buaya, keluarlah! Aku membawa kabar dari Raja Hutan!” Air sungai beriak. Satu kepala buaya muncul, disusul kepala-kepala lain yang mengintip dari air. Mata mereka menatap tajam, penuh curiga. Buaya tertua mendekat dan bertanya, “Kabar apa yang kau bawa, Kancil?”
Dengan wajah tenang, Kancil menjawab, “Raja Hutan ingin mengetahui jumlah buaya yang menjaga sungai ini. Ia hendak memberi hadiah kepada kelompok buaya yang paling banyak dan paling tertib.” Para buaya berbisik-bisik begitu mendengar kata “hadiah.” Mereka ingin diakui sebagai penjaga sungai yang hebat. Buaya tua lalu berkata, “Bagaimana cara menghitungnya?”
“Mudah,” jawab Kancil cepat. Susun tubuh kalian rapat dan lurus supaya hitungannya tepat!” Tanpa berpikir panjang, para buaya mulai menyusun diri. Mereka membentuk barisan panjang seperti jembatan hidup. Air bergoyang, tapi barisan itu tetap tegak dan kokoh.
“Satu,” katanya mantap. Ia melompat lagi. “Dua.” Ia terus melangkah dari satu punggung ke punggung berikutnya sambil menyebut angka dengan lantang. Ia menjaga keseimbangan dan tidak menginjak terlalu keras. Para buaya menahan diri supaya hitungannya benar. Mereka merasa bangga setiap kali angka disebutkan.
Setelah menyeberang dengan hati-hati, Kancil sampai di tepi seberang. Ia mendarat perlahan dan mundur beberapa langkah dari sungai. “Terima kasih, wahai buaya! Jumlah kalian sudah lengkap. “Aku harus cepat melapor pada Raja Hutan!” serunya dengan tergesa-gesa. Baru saat itu buaya tua mengerti tipu muslihat tersebut. “Hei! Hadiah kami mana?” bentaknya kesal. Sayangnya, mereka sudah terperdaya oleh akal cerdik Kancil.
Di bawah pohon buah yang rindang, Kancil berhenti dan menarik napas lega. Ia berhasil menyeberang tanpa berenang dan tanpa melukai siapa pun. Ia memakan buah dengan tenang sambil merenungkan perbuatannya. Ia menyadari pentingnya menggunakan kecerdikan untuk menyelamatkan diri, bukan untuk mencelakai orang lain. Baca cerita lain disini.
Perbedaan Sifat Sejak Awal Di sebuah daerah di Sambas, hiduplah dua saudara bernama Muzakir dan…
Doa yang Terkabul dengan Cara Tak Biasa Di sebuah desa di wilayah Jambi, hiduplah sepasang…
Keindahan Putri dan Awal Sebuah Janji Di sebuah kampung pesisir Sumatra Barat, hiduplah seorang bangsawan…
Di sebuah kerajaan di wilayah Simalungun, Sumatera Utara, hiduplah seorang raja bijaksana yang memiliki putri…
Awal Kehidupan yang Sederhana Di sebuah kampung di wilayah Aceh, hiduplah sepasang suami istri bersama…
Di sebuah wilayah yang penuh dengan tradisi dan kehormatan, hiduplah seorang pemuda bernama Limonu. Sejak…