Jerapah yang Sombong
Di sabana luas yang disinari matahari Afrika, hiduplah seekor jerapah bernama Talo. Lehernya paling tinggi, langkahnya paling anggun, dan matanya selalu memandang jauh ke depan. Talo sering membanggakan dirinya. Ia memetik daun tertinggi dan menertawakan hewan lain yang tak mampu menjangkaunya.
“Lihatlah betapa mudahnya bagiku,” kata Talo setiap kali antelop mencoba melompat. “Kalian perlu leher panjang sepertiku.”
Hewan-hewan lain memilih diam. Mereka lelah mendengar kesombongan Talo, meski tak ada yang berani menegurnya.
Suatu siang, matahari membakar sabana. Sungai tempat minum menyusut drastis. Hewan-hewan berkumpul dengan cemas. Talo datang paling akhir dan berdiri paling depan. “Tenang saja,” katanya. “Aku bisa melihat sumber air dari jauh.”
Namun saat ia menunduk, masalah muncul. Lehernya yang panjang menyulitkannya menjangkau air dangkal. Ia mencoba berkali-kali, tetapi bibirnya tak menyentuh permukaan. Hewan lain mulai berbisik.
Zara, seekor zebra yang tenang, mendekat. “Cobalah menekuk kaki depanmu,” sarannya.
Talo ragu. Menekuk kaki berarti tampak canggung. Ia menolak dan berpaling.
Haus makin menyiksa. Talo berjalan ke pohon akasia, berharap daun segar bisa menghibur. Namun panas membuat daun kering. Ia akhirnya duduk terdiam, napasnya berat. Kesombongannya terasa hampa.
Zara kembali, ditemani kura-kura tua bernama Keno. “Tak ada yang salah meminta bantuan,” kata Keno lembut. “Kekuatan memiliki batas.”
Talo terdiam. Kata-kata itu menembus hatinya. Dengan napas tertahan, ia kembali ke sungai. Ia menekuk kaki depan, menurunkan leher perlahan. Gerakannya canggung, namun air akhirnya tersentuh. Rasa segar mengalir. Beberapa hewan tersenyum lega; ketegangan pun mereda.
Tak lama, angin kencang membawa badai debu. Pandangan menjadi buram. Anak-anak hewan panik. Talo melihat dari ketinggian dan menemukan jalur aman di balik bukit kecil. Kali ini, ia tidak menyombongkan diri.
“Arahkan ke sana,” serunya. “Aku akan memandu.”
Ia berdiri di depan, memberi tanda dengan lehernya yang tinggi. Zebra berbaris rapi, gajah melindungi yang kecil, dan kura-kura menutup barisan. Jalur aman ditemukan, dan badai terlewati.
Setelah badai, sabana kembali tenang. Talo mendekati Zara dan Keno. “Aku salah,” ucapnya. “Aku lupa bahwa kelebihan tak berarti apa-apa tanpa kerendahan hati.”
Sejak hari itu, Talo berubah. Ia masih memetik daun tertinggi, tetapi ia juga membantu mengintai bahaya dan memanggil hewan lain saat sumber air ditemukan. Hewan-hewan tak lagi menjauh.
Di sabana yang luas, Talo belajar satu hal penting: leher boleh tinggi, tetapi hati harus rendah. Baca cerita lain disini.
Awal Kehidupan yang Sederhana Di sebuah kampung di wilayah Aceh, hiduplah sepasang suami istri bersama…
Di sebuah wilayah yang penuh dengan tradisi dan kehormatan, hiduplah seorang pemuda bernama Limonu. Sejak…
Burung Cendrawasih dikenal luas sebagai simbol keindahan dari tanah Papua. Dengan bulu berwarna cerah dan…
Di wilayah Mimika, hiduplah sekelompok masyarakat yang menggantungkan hidup dari sagu. Aktivitas memangkur sagu dilakukan…
Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak…
Di sebuah kampung tua di hulu Sungai Silau, hidup sebuah keluarga terpandang yang memiliki dua…